Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Tahun 1932, fisikawan muda Carl Anderson bekerja pada proyek yang semula digeluti sang mentor, fisikawan kawakan Robert Millikan. Millikan tertarik pada pengukuran energi sinar kosmik. Dia meminta Anderson membuatkan peralatan khusus, sebuah kamar kabut yang ditempatkan di suatu medan magnetik kuat untuk melakukan riset. Kamar kabut adalah instrumen yang diisi udara lembap yang amat jenuh atau sejumlah gas lain bertekanan. Partikel bermuatan yang bergerak melintas di dalam kamar kabut dengan kondisi yang diatur, akan meninggalkan jejak. Dengan instrumen itu, fisikawan dapat menemukan massa partikel dan muatannya.
Pada 2 Agustus 1932, Anderson kali pertama melihat partikel asing; antielektron. Tak lama kemudian Anderson menyebutnya positron, singkatan dari possitive electron. Jadi ramalan Dirac terbukti: antimateri telah lahir. Tahun 1933, Dirac dianugerahi Nobel bidang fisika untuk sumbangannya pada Teori Kuantum. Dan, 1936 Anderson pun memperoleh Nobel yang sama untuk penemuannya.
Penemuan Anderson tak hanya memperkukuh teori Dirac. Penemuan positron sebaliknya juga menimbulkan masalah sulit mengenai partikel hipotesis dan usaha pencarian yang memakan waktu 25 tahun. Partikel itu adalah antiproton, antipartikel dari proton, dengan massa dan spin sama tetapi dengan muatan dan momen magnetik berlawanan. Oktober 1955, tim peneliti Universitas California, Berkeley, AS, dengan alat proton-sinkrotron yang disebut Bevatron berhasil menemukan antiproton. Owen Chamberlain, sang perancang detektor antiproton, dan Emilio Segre, pemimpin percobaan itu, tahun 1959 dianugerahi Nobel fisika. Maka makin kuatlah pengakuan fisikawan di seluruh dunia akan eksistensi antipartikel.
Gaya Antigravitasi Kejutan terbesar lain yang tak kalah menarik adalah percobaan sekelompok fisikawan di laboratorium Nasional Los Alamos, New Mexico, AS, yang dilakukan di CERN. Percobaan 1988 itu dirancang untuk menguji apakah gravitasi memiliki efek sama terhadap antimateri sebagaimana terhadap materi normal. Jika efeknya berbeda, beberapa gagasan fundamental akan muncul, seperti gagasan keberadaan gaya antigravitasi. Sebaliknya, percobaan itu juga dapat mengungkapkan ada atau tidak supergravitasi.
Itu semua dimulai 1982, ketika dua fisikawan teori dari Los Alamos, Terry Goldman dan Michael Nieto, menulis artikel dalam jurnal Physic Letters berjudul "Exsperiments to the Measure of Gravitational Acceleration Antimatter". Mereka menegaskan secara umum teoretis gravitasi yang diterima berdasar etori Einstein mutlak menghindari keberadaan suatu gaya (dalam fiksi ilmiah) yang dikenal dengan "antigravitasi". Selanjutnya, mereka menyatakan antimateri menurut teori Einstein akan ditolak secara gravitasional. Itu secara eksperimental belum pernah terbukti. Tak akan ada seorang pun membuktikan, misalnya, antiproton tak jatuh ke atas dalam medan gravitasi bumi. Mereka mengusulkan suatu percobaan untuk menguji teori itu.
Tantangan itu ditanggapi sekelompok fisikawan eksperimentalis dari Los Alamos yang diketuai Michael Hynes. Mereka berencana mendapatkan sumber antiproton energi rendah. Para ahli telah memperoleh (dengan jalan menjebak) antiproton di Loe Energy Aniproton Ring (LEAR) milik CERN. Selanjutnya, Hynes merencanakan percobaan antigravitasi seperti percobaan balastik, menembakkan antiproton ke atas atau ke bawah tabung dan mengukur posisinya setiap saat, lalu mengukur percepatan gravitasinya. Namun untuk memperoleh ketelitian tinggi perlu kerja keras.
Sementara itu, fisikawan Ephrain Fischbach dari Universitas Washington, Seatle, AS, telah menganalisis kembali percobaan gravitasi yang telah berusia 75 tahun lebih oleh fisikawan Hongaria, Roland Eotvos. Dia yakin telah menemukan gaya kelima yang kelak menjadi antigravitasi. Di tempat lain, pengukuran secara mendalam di daerah pertambangan Australia oleh Frank Stacey juga mendapatkan bukti anomali gravitasi. Apakah itu menunjukkan antigravitasi memang benar-benar ada sebagai konsekuensi logis teori antimateri/antipartikel?
Perburuan Antimateri Selain partikel, apakah alam semesta ini juga dipenuhi antipartikel? Dentuman Besar semestinya menghasilkan keduanya. Pada suatu tahap dini penciptaan alam semesta, semestinya antipartikel telah ada. Para kosmolog berpikir, asimetri yang diramalkan Teori Paduan Agung yang melukiskan materi dan energi menampakkan eksistensi setelah Dentuman Besar mengakibatkan ketidakseimbangan materi dan antimateri. Ketidakseimbangan itu tak cukup untuk menciptakan alam semesta sebagian besar dari materi. Hampir semua antimateri musnah ketika kontak dengan materi.
Kemungkinan lain, antimateri dan materi bisa berdampingan di bagian lain alam semesta ini. Antimateri bisa ada jika alam memberikan suatu mekanisme untuk mengendalikannya, terlepas dari materi. Antiproton dan antineutrino bisa mengikat bersama membentuk antiinti dan menangkap positron, lalu membentuk antiatom. Karena itu, antimateri bisa ada dalam bagian sangat besar. Itu akan sestabil materi, selama materi dan antimateri tidak saling kontak.
Tags: Sejarah penemuan positron, Positron, Penemu positron, Carl Anderson noreply@blogger.com (Adipedia.Com) 05 Mar, 2011
--
Source: http://www.adipedia.com/2011/03/positron-possitive-electron.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com