Senin, 07 Maret 2011

Scimed, Penyandi Dokumen Rahasia

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Kabar media lokal Korea Selatan, Korea Times dan Kantor Berita Yonhap pekan lalu mengejutkan masyarakat Indonesia. Betapa tidak, dukumen rahasia negara yang berada di dalam komputer jinjing (laptop) salah satu delegasi Indonesia di Hotel Lotte, Seoul, diduga beralih tangan ke pihak yang tidak bertanggung jawab.
Adapun tim utusan khusus Presiden RI dalam kunjungan ke Korea Selatan pada 15 hingga 17 Februari 2011 terdiri atas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan.

Pelaku menyalin data yang diperkirakan informasi mengenai program kerja sama pertahanan antara Seoul dan Jakarta lewat flash drive (USB memory stick). Bocornya rahasia militer negara tersebut dikhawatirkan bisa membahayakan kedaulatan negara. Sebab, pihak yang tidak bertanggung jawab bisa saja mengetahui titik kelemahan dari pertahanan suatu negara. Namun, Hatta sebagai pimpinan tim utusan khusus menyangkal pencurian data rahasia negara. "Kunjungan itu dalam rangka kerja sama ekonomi, tidak ada tentang laporan kehilangan dan laptop yang dicuri menyangkut data militer.

Kementerian pertahanan sudah membantah dan kami terus berkomunikasi dengan Duta Besar RI di Korea Selatan," kata Hatta kepada Antara, Senin (21/2). Semua berharap apa yang disampaikan Hatta tersebut benar adanya. Pasalnya, apabila laptop tersebut memang berisi rahasia negara dan sempat berada di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, perkara tersebut bisa menjadi runyam. Sekarang ini perkembangan teknologi komputer sangat memungkinkan membobol proteksi laptop berupa sandi (password).

Apalagi seandainya laptop tersebut buatan Korea Selatan dan kebetulan pelakunya diduga dari negara yang sama, maka sistem proteksi komputer jinjing itu semakin mudah dibongkar. Sebab, mereka akan lebih mengenal segala sistem proteksi dari produk yang kemungkinan juga dimilikinya.

Membobol Sandi

Misalnya laptop dengan sistem proteksi sandi 10 karakter, maka dengan peranti lunak pencari kombinasi mampu mampu mengacak dan mencocokkan tentang segala kemungkinan dengan cepat.

"Bahkan, peranti lunak tersebut tidak membutuhkan identitas pemilik laptop untuk mencoba-coba segala kemungkinan tentang kode rahasia dari 10 karakter karena kebiasaan seseorang menggunakan sandi itu berdasarkan sesuatu yang mudah dihafal," ungkap Guru Besar Teknologi Informasi dari Universitas Gunadarma, Jakarta, Sarifuddin Madenda. Kalau sandi laptop diketahui dan data di dalamnya tidak diproteksi, maka semuanya bisa terbaca dengan mudah. Data yang sebelumnya dianggap rahasia itu pun bisa meluber ke mana-mana.

Jika sudah terjadi demikian, maka pihak yang dianggap teledor mengamankan data rahasia dalam laptop tentu harus bertanggung jawab sepenuhnya atas segala risiko yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, proteksi fi sik berupa penggunaan sandi untuk membuka program dalam komputer jinjing itu belum cukup. Datadata yang dianggap penting dan menjadi rahasia harus diproteksi pula. Tapi proteksi untuk mengamankan data tersebut jangan menggunakan peranti lunak yang umum dipakai atau dikomersialkan.

"Menggunakan peranti lunak (software) komersial untuk memproteksi data dalam laptop itu juga akan mudah dibobol lantaran algoritma yang digunakan sudah umum dipakai. Dengan demikian, peranti lunak itu bukan rahasia lagi karena teori (algoritma) untuk merancangnya telah diketahui banyak orang," tandas penyandang gelar doktor dari Université de Bourgogne, Prancis. Sarifuddin menyarankan kepada para pejabat negara untuk menggunakan peranti lunak pengaman dokumen, baik itu berupa teks, audio, citra, dan video (multimedia), yang sistem pengamannya hanya diketahui pemilik laptop maupun komputer itu sendiri.

Hal itu memungkinkan jika para pejabat memercayai penggunaan peranti lunak pengaman dokumen multimedia bernama Scimed (signal, computer, image processing, multimedia, electronics, database). Peranti lunak tersebut dikembangkan Universitas Gunadarma dengan dana insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). "Scimed dikembangkan dengan dana negara (rakyat), maka hanya diperuntukan untuk kepentingan negara," kata penanggung jawab tim penelitian Scimed, Universitas Gunadarma.

Algoritma Khusus

Teori-teori algoritma yang digunakan untuk membangun Scimed bukan yang digunakan secara umum, akan tetapi dikembangkan sendiri oleh tim penelitian. Algoritma merupakan kumpulan perintah untuk menyelesaikan suatu masalah. Perintah-perintah ini dapat diterjemahkan secara bertahap dari awal hingga akhir. Misalnya algoritma untuk enkripsi, dekripsi, enkoding (encoding), dan dekoding (decoding). Enkripsi adalah proses mengubah kode dari yang bisa dimengerti menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca). Sedangkan agar kode tersebut dapat dibuka lagi maka dibutuhkan dekripsi.

Agar data multimedia itu lebih aman lagi maka dilakukan proses enkoding, yaitu mengompresi data ke dalam bentuk sandi-sandi yang lebih optimal tanpa merusak informasi yang dikandung data tersebut. Maka untuk membuka sandi (encoding) tersebut juga membutuhkan pengurai sandi (decoding). Pengamanan data multimedia secara berlapis tersebut merupakan upaya meminimalisasi upaya pembobolan. "Data tersebut bisa terbongkar apabila ada seseorang yang berhasil menemukan algorima enkripsi, dekripsi, encoding, dan decoding. Kalau hanya menguasai salah satu algoritma maka data tidak mungkin bisa terbongkar," klaim Sarifuddin yang juga dosen tidak tetap di Departement d'Informatique et d'Ingénierie, Université du Québec en Outaouais, Canada.

Perlu Sistem Pengaman Berlapis

Meskipun algoritma dalam Scimed dirancang secara khusus, tidak menutup kemungkinan ada orang yang mampu membongkar dan menguasai algoritma tersebut. Maka untuk mengamankan data multimedia itu, menurut Guru Besar Teknologi Informasi dari Universitas Gunadarma, Jakarta, Sarifuddin Madenda, masih dibutuhkan satu data lagi—entah itu teks, audio, citra, dan video—untuk menyisipkan data yang akan diamankan. Sebagai contoh, pengamanan data berupa laporan proyek (teks), rekaman rapat (audio), foto kegiatan (citra), dan perjanjian perusahaan (video), maka dibutuhkan citra semisal gambar pesawat tempur untuk menyisipkan semua data tersebut.

Lalu gambar pesawat tempur tersebut dienkripsi dan enkoding lagi. Jika data yang telah disisipkan itu dibuka di komputer biasa maka yang tampil hanya gambar pesawat tempur saja. "Semua data itu bisa disisipkan ke data lainnya secara berlapis-lapis lantaran sejatinya komputer membaca berdasarkan nilai numeriknya saja. Lalu ditampilkan dalam bentuk teks, audio, citra, atau video," jelas penyandang gelar doktor dari Université de Bourgogne, Prancis, ini. Proses penyisipan itu bisa dilakukan berulang kali agar lebih aman. Misalnya setelah disisipkan gambar pesawat tempur, masih bisa disisipkan ke data lain berupa audio percakapan orang.

Sisipan ini sekaligus dapat dijadikan cadangan (back up) data. Pun untuk membuka data tersebut hanya bisa dilakukan Scimed. Walau begitu, menurut Sarifuddin, menyisipkan data ke data lainnya dalam komputer itu masih belum cukup untuk mengamankan data yang sangat rahasia. Apabila ada orang yang menemukan Scimed dalam laptop tentu masih memungkinkan untuk membuka data. Maka dari itu, ada peranti lunak khusus lagi yang digunakan untuk menyembunyikan Scimed.

"Peranti lunak khusus pembangkit Scimed tersebut menjadi pengaman data dalam lapis kesekian," ujar Sarifuddin yang juga dosen tidak tetap di Departement d'Informatique et d'Ingénierie, Université du Québec en Outaouais, Canada. Untuk membuka peranti lunak khusus itu pun membutuhkan sandi yang tidak terhingga jumlah karakter nya. Dengan kata lain, hanya orang yang mengoperasikan peranti lunak khusus itu yang mengetahui.

Bahkan Sarifuddin juga mengaku tidak bisa membukanya lantaran setelah orang membuat sandi dalam peranti lunak khusus tersebut maka ada proses enkripsi dan dekoding secara otomatis. Setelah itu peranti lunak khusus akan mengeluarkan kata sandi yang hanya diketahui pembuatnya. (koran-jakarta.com/ humasristek)

Adipedia.Com 08 Mar, 2011


--
Source: http://www.adipedia.com/2011/03/scimed-penyandi-dokumen-rahasia.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

 
Atas